Showing posts with label Pesta Sex. Show all posts
Showing posts with label Pesta Sex. Show all posts

Pesta Yang Tak Terlupakan

Pesta Yang Tak Terlupakan

"Fenny...", melihat kondisi anak gadis ku yang ternyata baik-baik saja membuat hatiku lebih tenang. "Ma... Fenny kangen...", dia lalu memelukku dengan erat. Air mata kami kemudian menetes, rasa haru pun menyelumuti kami. Sesaat aku dan Fenny berbagi cerita tanpa menghiraukan teman-temannya yang lain. Walaupun ia tetap terjerumus di lembah gelap, tapi aku masih sedikit tenang, setidaknya bukan tempat bang Solihin yang lebih bobrok. Fenny memilih di sini, aku yakin dia punya alasan tertentu, mungkin karena orang-orang di sini masih muda, jauh beda dengan 1001 malam yang dari berbagai usia. Fenny lebih akrab dengan mereka yang umurnya tidak begitu selisih jauh, apalagi di sini bebas dari narkotika, walaupun sebelumnya Mamat dan Syamsul pernah berkeja menjadi kurir narkoba. Lain dengan 1001 Malam yang marak sebagai tempat transaksi narkoba."Yully...", aku memperkenalkan diri kepada orang-orang di sini. Sebentar saja aku sudah akrab dengan mereka. Bos di sini adalah Herman, dia lah yang mengucurkan uang untuk membebaskabku dari jeratan bang Solihin, kemudian ada Satorman, Mamat dan Syamsul yang tadinya menjemputku. Selain itu ada teman-teman Herman yang lain; Tono, Andi, Iskandar, Marwan, Budi, dan Eko. Serta tiga gadis pemijit selain Fenny; Ayu, Lisa dan Widya.


Mereka semua baik sekali dengan Fenny, sampai-sampai nanti malam mau mengadakan pesta untuk merayakan kebebasanku. Sebagai tanda terima kasih, aku pun berjanji akan memasak makanan untuk pesta nanti malam. "Bagus, tante tinggal di sini saja, hitung-hitung bantu siapkan makanan untuk kita..", ajak Herman agar aku bergabung dengan usahanya. "Kasihan juga si Fenny tidur sendirian...", lanjut Herman. Aku pun mengiyakan karena aku sendiri juga tak tahu harus tinggal di mana lagi. Di gedung ini hanya Fenny dan Satorman saja yang tinggal, sedangkan yang lain kalau sudah malam pulang ke rumah masing-masing, kadang-kadang saja ada yang menginap di sini.

Aku pun mulai keluar berbelanja bahan untuk masakan, Herman meminta Satorman menemaniku, namun sepertinya dia kecapekan karena tadi telah menjemputku, mau tidak mau Tono lah yang ditunjuk kemudian. Wajahnya sedikit aneh, tampak seperti seorang pecandu seks yang berlebihan, menatapku saja seperti menatap mangsa. Tapi tidak apalah, sudah tidak heran kok diperlakukan seperti ini. Tubuhku yang putih mulus memang sering mengundang nafsu para lelaki hidung belang, apalagi aku adalah keturunan china, walaupun umurku sudah 32 tahun, namun aku tetap menjaga bentuk tubuhku.

Dalam perjalanan aku banyak berbincang dengan Tono, aku duduk di sebelahnya yang sedang menyupir. Sesekali ia meraba pahaku yang kebetulan aku menggunakan rok, sehingga gampang sekali disibak. Ternyata Tono adalah sahabat Herman sedari kecil, mereka sudah seperti saudara dan saling membantu. Orang tua Tono pun bekerja pada orang tua Herman. Karena rabaan lembutnya di pahaku membuatku sedikit terangsang, stidak ingin mengecewakannya, aku pun membalas meraba pahanya. Tono tersenyum girang, ku buca resleting celananya lalu ku keluarkan penisnya yang sudah ngaceng. Selama perjalanan aku mengocok penisnya dengab tanganku, dari sejak pergi sampai pulang hingga ke tempat asal kami. "Tar malam boleh dong temani Tono?", tanya Tono sebelum aku turun dari mobil. Aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

Tidak terasa waktu cepat berlalu, mungkin karena aku terlalu berfokus pada masakanku, jam sudah menunjukkan pukul 10, hanya Fenny yang membantuku di dapur, sedangkan yang lain ada di ruang kumpul untuk berkaraoke ria. "Yuk, kita bawa ke sana...", aku mengajak Fenny anakku untuk membantuku membawa masakan. Cukup kaget ketika aku membuka pintu ruangan kumpul. Ternyata semua sudah bugil dan menikmati bir sambil berkaraoke. Hmm, anak muda jaman sekarang terlalu bebas pikirku. Namun lebih kagetnya lagi ku lihat Fenny membuka pakaiannya setelah meletakkan masakan di atas meja. Sebenarnya aku tidak lah awam dengan ini, namun tidak tega saja melihat anakku sendiri yang berbuat demikian.
Aku pun meletakkan masakan yang aku pegang di atas meja. "Ayo gabung...", aku ditarik Tono yang lalu memaksaku melepaskan pakaianku. Tanpa perlawanan, aku mengikuti acara mereka, menari bugil. Para lelaki berkaraoke dan dikaraoke, Fenny melayani bos Herman, aku melihatnya dengab jelas, Fenny menyepong penis Herman dengan nafsu. Sedangkan Ayu melayani Satorman dan Andi, Widya melayani dua sekawan alias Mamat dan Syamsul, sedangkan Lisa menyepong punya Iskandar dan Marwan. Yang tidak dapat jatah masih asyik menikmati bir sambil merokok. Aku kemudian ditarik Tono, "Sepongin dong tante...", pintanya. "Awas, hyper tuh...", ejek Eko dan Budi yang sedang minun-minum.

Kumainkan penisnya yang mengeras itu, penuh nafsu Tono mencengkram erat rambutku agar aku terus menyepong penisnya. Sebentar-bentar ia juga menampar pipiku, sungguh benar Tono adalah seorang yang hypersex. Sesekali ia juga menjulurkan tangannya ke bawah untuk meremas susuku. "Tante masih cantik...", ia coba merayuku agar aku semakin terangsang. Ku pandangi yang lain juga masih asyik menyepong, seperti lomba saja, lima perempuan sedang melayani beberapa pria secara bersama-sama. "Tante... Boleh gak Tono request?...", tanya Tono. Aku pun kemudian menghentikan seponganku untuk mendengar apa permintaannya. "Pengen model bondage...", lanjutnya sambil tersenyum. Aku tidak menjawabnya, melainkan meneruskan seponganku. Penisnya terasa hangat dimulutku, ku kulum dan ku jilat. Tono hanya diam, ia tidak kembali menanyakan jawabanku, sungguh pria yang hypersex.

Kulihat Eko dan Budi tidak lagi minum, mereka sudah bergabung dengan yang lainnya. Hanya Herman yang berdua dengan Fenny, tidak ada yang berani rebutan dengannya karena dialah bos di sini. Fenny tidak lagi menyepong, tetapi telah berjongkok di atasnya, percintaan gaya WOT, Fenny terlihat sangat menikmatinya dengan terus menggoyangkan pinggulnya untuk mengocok penis Herman.

Di arah lain, Ayu sedang didoggie oleh Satorman. Andi tidak diam saja, ia masih membiarkan penisnya disepong oleh Ayu. Depan belakang diberi penis, terlihat Ayu juga sudah cukup profesional. Budi yang tadi minum bergabung dengan Marwan dan Iskandar untuk menikmati Lisa, ada yang mengentotnya, ada yang disepongnya, dan ada yang menyedoti susunya. Sama halnya keadaan Widya, ia juga melayani tiga pria sekaligus, Mamat, Syamsul dan Eko. Semua mendapat jatah bergiliran, dari melumat bibirnya, menyedoti susunya, menusukkan penis ke vagina nya, dan adegan-adegan lain yang bergaya threesome.

Seponganku mungkin sudah membuat Tono sedikit bosan sehingga ia langsung mendorongku jatuh, dan lalu ia melumat susu ku dengan kasar. Tubuhku ditindihnya hingga aku sulit bernafas. Dari bibir hingga ke dada, ia menciumin seluruh tubuhku. Sambil menyedot susuku, Tono memainkan jarinya di arah vaginaku. Mungkin ia sedikit marah karena aku tidak menjawab kemauannya untuk menggunakan gaya bondage.
Puting susuku terasa perih, Tono seperti tanpa perasaan menyedot dan menggigitnya dengan kesetanan. Vaginaku pun terus dikocok dengan jarinya secara paksa. Aku hanya bisa bertahan mengikuti kemauannya. Sial pikirku kalau ketemu pria hyper seperti ini. Dulu di markas bang Solihin juga sering ketemu yang seperti ini, namun tidak begitu kasar. Tono lebih kasar dari pada pelanggan dulu, susu dan pantatku pun ditampar hingga kemerahan. Tak mau berlama-lama, Tono pun bangkit mengambil tas nya dan mengeluarkan seutas tali. "Sorry tante...", ia tersenyum padaku. Aku hanya berbaring lemas di lantai.

Kemudian Tono mengikat tanganku kebelakang sambil berbisik, "Tante pura-pura berontak saja...". Gila, pikirku, nih anak sudah keracunan video porno kayaknya. Agar ia puas, aku pun pura-pura berontak, aku menendangkan kakiku agar Tono menjauh. 'PLLAAAKKKK.....", Tono menampar pipi ku dengan keras hingga aku pun meneteskan air mataku. Sekujur tubuhku diikat dengan tali hingga aku tidak bisa bergerak, hanya kakiku saja yang dibiarkan mengangkang. Bukan hanya itu, Tono pun melakban mulutku dan kemudian ia pun mengeluarkan sextoy dari tasnya, sebuah benda panjang yang berbentuk penis besar.
Aku melihatnya menekan tombol yang ada di gagangnya, kemudian penis itu bergerak dan berputar seperti bor dan menggeliat seperti ulat. Benda itu terbuat seperti dari bahan karet, Tono pun kemudian berusaha menusukkannya ke lubang vaginaku. "Hmmmmm....", aku tidak bisa bersuara, mulutku tertutup lakban, benda besar itu terasa tidak muat di vaginaku. Sakit sekali hingga aku kembali menangis. Benda itu terus mengobok-ngobok dalam vaginaku, berputar-putar seperti bergejolak. Tono tak mau menariknya untuk waktu yang cukup lama, sambil menusukkan benda itu, ia terus menyedot susuku.

Aku tidak jelas memandang sekitar, mataku penuh dengan air. Kurasa yang lain masih asyik bercinta. Mungkin saja mereka sudah berganti posisi atau bahkan sudah berganti pasangan. Hanya aku saja yang diperlakukan begini. Puting susu ku ditarik Tono hingga mancung ke depan. Aku juga merasakan telah mencapai orgasme, air kenikmatanku sudah muncrat keluar, membasahi sextoy dan tangan Tono, namun dia tetap saja tak mau menarik keluar sextoy nya itu. Lelah sekali diperlalukan seperti ini, mungkin dinding vaginaku pun sudah koyak, karena benda yang besar itu tanpa henti berputar, terasa panas sekali.
Puas menyodokkan penis mainan itu, Tono akhirnya menarik keluar dari dalam vaginaku. Sedikit tenang karena tidak dipaksa seperti tadi lagi, karena sekarang ku lihat Tono akan memasukkan penisnya yang tidak begitu besar ke dalam vaginaku. Untuk mendapatkan sensasi, Tono menampar pipiku dan menjambak rambutku hingga aku hanya bisa merintih tanpa bisa berteriak karena mulutku masih tertutup lakban.
Aku terus digenjot oleh Tono, badanku terasa sakit karena ikatan tali di tubuhku sangat erat sekali, semoga saja ini cepat berlalu. Tiba-tiba ada seseorang mendekati kami, kucoba lihat dengan jelas, ternyata itu adalah Herman, ia langsung menarik lakban yang menutupi mulutku dengan kasar, "Mama Fenny... Sepongin dong...", ia lalu mendekatkan penisnya ke mulutku. 'Hoek' mual sekali bagiku karena penisnya masih basah, karena barusan saja Herman menyetubuhi anakku Fenny, sehingga bekas-bekas cairan sperma masih melekat di penisnya. Mau tak mau harus ku kulum penisnya itu. Badanku bergoncang kuat, atas bawah mendapatkan pekerjaannya masing-masing.

Yang lain entah bagaimana, baik Fenny, Ayu, Lisa maupun Widya. Yang jelas, ini adalah pesta seks yang cukup melelahkan. Ku lihat beberapa pria sudah istirahat, mereka duduk dipojokan sambil merokok. Gadis lain sudah terkapar tak bertenaga melayani beberapa pria, hanya aku yang masih bermain cinta.
"Bos, Tono minta ijin semprot...", pinta Tono yang sudah mau berejakulasi setelah setengah jam meenggenjot vaginaku. Herman mencabut penisnya dari mulutku, lalu Tono menggantikan posisinya, Tono mau aku mengulum penisnya hingga cairan spermanya keluar dan memenuhi mulutku.

Mulutku sudah belepotan dengan sisa sperma Tono yang sebagian sudah tertelan, Tono pun menjauh dan berkumpul dengan yang lain untuk menghabiskan bir dan masakan yang aku buat. Sekarang giliran bos Herman yang menggenjot vaginaku, dengan tubuh masih terikat, aku terus digoyang. Tak berhenti, kini Satorman datang bersama Andi untuk bergantian memintaku sepong. Kelihatannya mereka sudah bosan dengan Fenny, Ayu, Widya dan Lisa. Dengan keadaan terkapar terikat, tubuhku bergoyang mengikuti irama genjotan Herman, dan mulutku terus disumpal penisnya Satorman dan Andi.

Tak lama dari itu, kulihat pria yang tadinya beistirahat sudah mulai segar kembali dan antri dibelakang Satorman dan Andi. Mereka mengerumuniku, menjamahku, dan meremas-remas buah dadaku.
Hanya Tono yang masih beristirahat sambil merokok, tapi penisnya tidak istirahat, ia masih meminta Widya untuk memainkan penisnya. Sedangkan Ayu, Fenny dan Lisa menyantap makanan dan minuman yang tersisa. Seperti halnya Tono, Herman pun menarik penisnya dari vaginaku dan berejakulasi di mulutku. Kini giliran Satorman yang mengambil posisi Herman.

Aku sudah capek, vaginaku pun sudah perih terasa. Tapi mereka seolah tidak mengerti, mungkin karena aku barang baru bagi mereka. Aku sudah tak mampu melihat sekitar, hanya merasakan genjotan para lelaki itu, dan muntah-muntah karena menelan peju mereka. Setelah Satorman, giliran Andi, seterusnya entah siapa lagi, aku sudah tak sadarkan diri karena kecapekan, yang jelas semuanya mendapatkan giliran.
Ketika aku terbangun, ternyata pesta mereka belum usai, Fenny dikerumuni Syamsul, Andi, dan Tono, sedangkan Ayu menyepong Satorman sambil didoggie oleh Mamat, gadis lainnya si Widya dan Lisa sedang dinikmati pria lainnya, hanya bos Herman yang tidak kelihatan. Mungkin mereka selalu beristirahat sejenak sehingga stamina mereka begitu kuat dari malam hingga pagi hari.

Aku tidak mau memperdulikan mereka lagi, dan berpura-pura tertidur agar tidak perlu capek lagi melayani mereka. Akhirnya siang, aku dibangunkan Fenny dan melepaskan ikatanku, aku pun segera bangkit untuk mandi. Mereka ternyata sudah mandi terlebih dahulu, hanya beberapa orang saja yang masih tiduran di lantai. "Habis mandi, siapin makanan ya ma... Bos Herman pergi jemput tamu...", pesan Fenny sebelum aku masuk ke kamar mandi.

"Huah... Capeknya...", desahku di dalam kamar mandi sambil diguyur air hangat dari shower, cukup segar merasakan air yang membasahi tubuhku. Setelah ini aku harus memasak, tidak tahu siapa yang dijemput oleh Herman.

Jam sudah menunjukkan pukul 16:00, Herman yang ditemani Satorman belum kunjung pulang. Aku dan teman yang lain cukup khawatir, takut makanan yang ku siapkan tidak segar lagi. Tono dan beberapa pria berjaga dibawah, sedangkan para gadis masih santai bersamaku di ruang kumpul, karena tempat usaha kami terhitung baru, masih jarang konsumen yang singgah ke sini. "Fen, nanti makanannya dipanasin saja ya, mama capek banget nih", aku meminta Fenny untuk membantuku. "Oke ma, mama istirahat saja...", jawab Fenny.
Aku pun masuk kamar dan langsung menghempaskan tubuhku ke ranjang. Capeknya hari ini, aku pasti akan nyenyak tidur di sore ini. Bagaimanapun pesta tadi malam sangat membekas dipikiranku, karena aku belum pernah mengalami pesta seks ramai-ramai begitu, apalagi bersama dengan Fenny anakku yang juga ikut berpesta.

Petualangan Bersama Si Kembar

Petualangan Bersama Si Kembar

Memang sudah tidak aneh kalau ada dua orang anak kembar yang menyukai selera yang sama dalam segala hal, termasuk soal memilih pacar. Tapi ada sedikit pengalamanku yang benar-benar hebat dengan dua anak kembar di sekolahku. Bukan berpacaran dengan salah satu dari mereka atau keduanya sekaligus, tapi meniduri mereka berdua sekaligus, itu baru luar biasa.

Hari itu seperti biasanya, aku tidak langsung pulang dari sekolah, aku dan beberapa orang temanku duduk-duduk sambil sedikit ngobrol, yah tentu saja tidak jauh dari soal cewek dan seks.Alf salah satu temanku yang kebetulan duduk di sebelahku bercerita tentang pengalamannya dengan satu dari sepasang kakak beradik yang kembar. Kalau saja mereka tidak ketahuan penjaga sekolah, pasti Alf sudah berhasil melakukan niatnya. Alf sedikit kecewa dengan pengalamannya itu, tapi dia sedikit senang karena dia berhasil meremas dada kanan gadis itu sambil menciumnya.


Saat itu kedua gadis kembar itu lewat, dan dengan gaya centilnya mereka menyapa kami berempat. Alf yang sedari tadi bercerita langsung berdiri hendak menghampiri mereka, tapi seketika itu juga dilihatnya penjaga sekolah yang memergoki mereka, kontan saja Alf duduk lagi. Aku sendiri tetap duduk sambil memandang kedua gadis itu menjauh dari kami berempat. Lumayan juga, memang tidak terlalu cantik, tapi cukup manis.

Dua hari kemudian, tanpa sepengetahuan ketiga temanku, kuajak salah satu dari mereka makan siang di kantin sekolah, sebut saja namanya Adriana. Aku yakin ketiga temanku tidak tahu, karena mereka berencana untuk berenang sepulang sekolah. Aku sedikit berbincang-bincang dan saat itu kakak kembar gadis itu datang, sebut saja Cinderella datang menghampiri kami berdua. Dia datang ketika aku mengajak Adriana sedikit refreshing setelah pra-EBTA yang benar-benar bikin kepala pusing.

Cinderella langsung merengek untuk ikut juga, tentu saja aku tidak menolak, kapan lagi aku bisa mengajak dua orang gadis pergi bersama, apalagi mereka kembar. Akhirnya kami bertiga sepakatuntuk pergi ke Pangandaran, kebetulan sekolah libur 3 hari setelah pra-EBTA.

Singkat cerita, kami sampai ke Pangandaran, dan kami menyewa 2 kamar, satu untukku dan satu lagi untuk mereka berdua. Tentu saja kami sedikit berjalan-jalan dulu sebelum akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Aku sebenarnya tidak ingin tidur, karena itu aku tetap terbangun walaupun aku berbaring di tempat tidurku.

Pukul 11 tepat, pintu kamarku diketuk. Ketika kubuka, Adriana dengan tenang masuk ke kamarku. Aku memang memintanya untuk datang ke kamarku kalau kakak kembarnya sudah tidur. Kamiberbincang sebentar, dan akhirnya perbincangan itu kuakhiri dengan sebuah ciuman. Mulanya hanya ciuman selamat malam, tapi begitu tahu kalau dia membalasnya, aku tidak segera melepaskan bibirnya, dan terus kulumat bibir seksinya itu.

Tanganku yang semula diam, mulai nakal dan memanjat naik ke dadanya, tetapi ketika kuremas dadanya, Adriana meronta, "Aku sudah milik orang lain, apalagi dia Alf temanmu."
Aku tersenyum, "Aku tidak akan mengambilmu darinya, hanya untuk malam ini saja."
Adriana tersenyum nakal, diraihnya tanganku, "Oke, siapa takut..!"
Aku tersenyum, lalu melanjutkan permainanku. Kupagut lagi bibirnya, sedang tanganku tidak lagi meremas dadanya, kedua tanganku melingkar di tubuhnya, dan kulepas bra di balik baju tidurnya.

Setelah selesai melaksanakan tugasnya, barulah kedua tanganku bermain-main di depan, meremas, mengelus dan sesekali memelintir puting dadanya yang sudah mengeras. Adriana tidak menolak ketika kulepas kaosnya. Kulihat dengan jelas kedua gunung yang menggoda itu, tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat mataku terbelalak. Tanpa menunggu aba-aba lagi, langsung kusambar keduanya, kuremas sedikit kuat.

Adriana mendesah dalam, dipegangnya tanganku seolah memohon untuk lebih lembut sedikit. Aku tahu hal itu, karenanya kulepaskan dada kirinya, tapi sebagai gantinya, hap.., buah dadanya seolah kumakan dengan liar. Kuhisap sedikit sambil kumainkan lidahku memutar putingnya yang sudah berdiri tegak di puncak kedua bukit itu.

Belum selesai kubermain, aku tersentak kaget. Kulihat Cinderella berdiri di ambang pintu yang lupa kukunci. Dia tersenyum ke arahku, lalu mendekat. Aku benar-benar menyesal karena lupa mengunci pintu, tapi penyesalanku berubah menjadi senyum kemenangan ketika Cinderella membuka pakaian tidurnya.
"Jangan hanya berani melawan adikku, bagaimana kalau kau buktikan kejantananmu pada kami berdua sekaligus..?"

Aku tidak banyak berbicara lagi, kusambar tubuh Cinderella yang sudah setengah telanjang itu, kutarik bra-nya hingga putus, lalu kubanting dia ke tempat tidurku. Seperempat detik kemudian lidahku sudah bermain di puting dadanya yang sedikit lebih besar dari Adriana. Cinderella mendesah dalam sambil menikmati permainanku, kulihat Adriana duduk memandang kami berdua, kutarik tubuhnya, dan kubaringkan di sampingku. Cinderella di sebelah kananku, dan Adriana di sebelah kiriku, sedang aku telungkup di tengah sambil meremas dada mereka. Selagi tanganku bekerja meremas dan mengelus, mulutku bergantian menghisap dan menjilati dada mereka yang lainnya secara bergantian.

Setelah kurasa cukup, aku berdiri, dan membuka seluruh pakaianku, begitu pula Adriana dan Cinderella. Kubuka agak lebar kaki Adriana, dan lidahku langsung bermain di sekitar kemaluannya. Adriana bergoyang-goyang keenakan. Kutarik kepala Cinderella ke selangkangan kakiku dan tanpa disuruh lagi, langsung dikulumnya kejantananku. Hebat juga permainannya, sesekali dihisapnya kejantananku, lalu dijilatinya kepalanya yang berwarna ungu, itu membuatku sedikit geli dan semakin liar menjilat kemaluan Adriana.

Kulihat juga klit-nya mulai terlihat walau tersembunyi, kugosok dengan telunjukku, dan Adriana mendesah sambil menegangkan otot pinggulnya. Aku tahu dia menyukainya, karena itu kugosok lagi, dan sesekali kujilat benda itu. Tidak lama kemudian Adriana menyerah, tubuhnya menggoncang hebat, dan dia sedikit memekik menahan nikmatnya puncak birahi. Kemaluannya semakin basah, dan terlihat lendir mengalir perlahan dari sela surga dunia itu.

Kudorong kepala Cinderella, dan kuregangkan lebih lebar paha Adriana. Cinderella tahu kalau aku akan menusuk kemaluan Adriana, karena itu dia duduk di belakang Adriana, sepertinya hendak membantu Adriana menahan goncangan-goncangan yang sebentar lagi akan terjadi. Kugosokkan sebentar kepala kejantananku yang sudah basah oleh liur Cinderella. Dan kutekan sedikit di kemaluan Adriana. Tangannya meremas sprei dan mulutnya terbuka sedang matanya terpejam.

Setelah masuk kepala kejantananku, kugerakkan naik turun sedikit, dan dengan sedikit hentakan, seluruh kejantananku masuk semua ke dalam kemaluannya. Adriana menjerit tertahan dan tubuhnya terdorong ke belakang. Cinderella berusaha menahannya dan kembali menegakkan tubuh Adriana yang seolah tergeletak tidak bertenaga.

Setelah itu kugerakkan pinggulku maju mundur, dan sesuai dengan irama maju mundur itu, Adriana mendesah-desah. Cinderella sendiri memeluk adiknya sambil mengelus lengannya, seolah menghibur kalau ini akan segera berakhir. Semakin lama kocokanku semakin cepat, dan desahan Adriana sudah berganti menjadi jeritan-jeritan tertahan yang membuat nafsuku semakin membara. Beberapa menit kemudian kurasakan kejantananku panas, aku akan mencapai puncak, karena itu kupercepat gerakanku, dan ketika hampir keluar, kucabut kejantananku dari kemaluan Adriana.

Aku teringat artikel yang kubaca di situs ini, yang berjudul "Pria Multi Orgasme" (kalau tidak salah). Karena itu segera kutekan bagian bawah buah kemaluanku, tempat antara dubur dan batang kemaluanku (lengkapnya, baca saja artikel itu). Aku tetap merasa kenikmatan orgasme, dan kulihat tidak ada mani yang keluar dari kejantananku, hanya saja ketika kenikmatan itu berakhir, kulepas jariku dan kulihat cairan bening keluar sedikit dari kejantananku. Adriana sendiri bergoncang-goncang menikmati puncak keduanya. Cinderella sedikit kesulitan menahan badan adiknya yang bergoncang-goncang.

Tetapi akhirnya itu berakhir. Adriana segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang penuh keringat. Aku tidak menunggu lagi, kejantananku yang sudah sangat basah masih tetaptegang dan siap digunakan, karena itu aku langsung menyambar tubuh Cinderella yang sepertinya sudah tidak sabar juga.

Aku tidak perlu membasahi kemaluannya, karena sudah sangat basah. Rupanya dia menikmati dan menonton pertunjukkanku dengan adiknya. Kali ini aku tidak bermain dari depan, kubalikkan tubuhCinderella dan kutusuk dia dari belakang. Cinderella berusaha menahan goncangan ke depan dengankedua tangannya, tapi sepertinya dia tidak kuat, berkali-kali aku harus menarik pinggulnya yang semakin terseret maju akibat kocokanku.

Di luar dugaanku, ternyata dengan teknik pria multi orgasme itu aku menjadi lebih lemah, dan belum aku puas mendengar jeritan dan desahan Cinderella, kejantananku sudah panas dan hampir keluar. Aku segera melepaskan kejantananku dari kemaluan Cinderella, dan sambil memberi sedikit waktu pada kejantananku, kukunci pintu yang lupa kukunci. Tidak lama, tapi cukup untuk memberi waktu pada kejantananku untuk beristirahat.

Setelah itu kulanjutkan permainanku, kukocok kemaluan Cinderella dari belakang, dan beberapa saat kemudian kucabut lagi, kali ini kuarahkan ke lubang duburnya. Kutekan, tapi hanya sedikit saja yang masuk. Kutekan lagi lebih keras, dan terus menerus, tapi tidak juga masuk semuanya. Aku tidak peduli, kukocok walaupun sulit. Akhirnya aku menyerah, kepala kejantananku terasa sakit karena lubang duburnya jauh lebih sempit dari kemaluannya.

Kubalikkan tubuh Cinderella yang sudah basah karena keringat, dan kukocok kemaluannya dari depan. Cinderella menjerit dan berdesah sebelum akhirnya mencapai puncak. Aku sendiri sudahhampir mencapai puncak, karena itu kupercepat gerakanku, semakin cepat dan semakin liar. Ketika hampir keluar, kucabut dari kemaluannya, dan kuselipkan di antara dada Cinderella.

Kugosok-gosokkan seolah sedang mengocok kemaluannya, dan tidak lama kemudian aku mendesah panjang dibarengi dengan cairan putih kental yang memancar keluar ke wajah Cinderella, dan jugaleher serta di sela-sela dadanya. Setelah berbaring sebentar, aku menggendong Cinderella ke kamar mandi, dan membersihkan diri di sana, bertiga dengan Adriana.

Kami sempat bermain sebentar di kamar mandi, tapi tidak sampai puncak, karena aku sudah terlalu lelah untuk bermain dengan mereka. Kami tidur bertiga dengan tubuh masih telanjang, dan paginya kami pulang ke Bandung dengan sejuta kenikmatan. Malam itu benar-benar menyenangkan dan tidak akan kulupakan seumur hidupku.

Susan, Lingga dan Siska

Susan, Lingga dan Siska


Namaku Adi, mahasiswa angkatan 2000. Kisah ini terjadi pada bulan April 2001, ketika kami menjalani mid-test. Semua bencana ini dimulai ketika Susan dan Lingga (mereka adalah bunga kelas di kelasku) mereka memintaku untuk belajar bersama, pada mulanya aku tidak curiga sama sekali karena IP-ku hampir mendekati 4.0, jadi banyak yang ingin belajar bersamaku, jadi kukabulkan saja permintaan mereka.


Tak kusangkal juga bahwa diriku juga hampir setiap hari melirik ke arah mereka yang biasa duduk di baris belakang. Sering juga kubayangkan aku dapat memiliki salah satu dari mereka. Kuamati payudara Susan di kelas yang sering dibungkukkannya entah sengaja atau tidak, belahan dadanya sering mengusik kesadaranku, dan saat CD Lingga sering muncul di antara celah di punggungnya, aku terus mencoba mengendalikan diriku untuk tidak berpikir yang tidak-tidak tentang mereka.


Setelah pulang kuliah, sekitar pukul 17:10, Lingga mengajakku ke tempat kostnya di Jl. S, bersama Susan kami bertiga berjalan kaki, tidak terbesit maksud jahat dari raut wajah mereka yang putih mulus. Sepanjang perjalanan aku terus memandangi dada Susan yang tergoncang-goncang naik turun. Ingin rasanya aku meremas-remasnya, tapi kucoba untuk menghilangkan fantasi kotorku. Wajah Susan yang mirip Katie Holmes menambah keinginanku untuk mencium bibir merahnya yang seksi.

Sesampai di kamar kostnya berukuran 3x4, Lingga mempersilakanku duduk, aku terpaksa duduk di ranjang karena tak ada sofa yang tersedia. Kupandang sekitar rumah kostnya, suasanya hening sepi, dan di jemurannya tergantung bra dan CD Lingga yang sering dikenakannya di kampus. Lingga lalu memungut bra dan CD-nya dan ditaruh di lemari bajunya. Kuintip sedikit isi lemarinya. Koleksi CD Lingga warnaya seperti pelangi di langit.

Tiba-tiba kurasakan sentuhan halus di pundakku, ternyata tubuh Susan yang montok telah menghinggapiku. Aku berdiri dan berjalan menuju pintu. Tiba-tiba Lingga mencegatku di pintu dan mengunci pintu rapat-rapat. Lingga mendorongku ke ranjang dimana Susan telah menanti, Susan memegangiku dengan erat, sementara Lingga mulai melepas kaos ketatnya warna biru gelap bertuliskan "ij", dan aku hanya terpana menatap tubuh seksi dan putih tanpa cacat. Tak pelak lagi, branya menyembul keluar dengan dua buah dada yang bulat berisi, kira-kira ukuran 32B. Memang aku sering mengintip bra Lingga di kelas, karena ia sering menggunakan kemeja dan kuintip dari lubang kancingnya yang sering menganga di kelas, tapi keadaannya berbeda sekarang, tak ada "penghalang" lagi antara tanganku dengan buah dadanya, baru kali ini kulihat jelas dada Lingga yang makin membuatku tak sadar lagi dan ada sesuatu yang menonjol dari celanaku. Perlahan ia mulai melorotkan celana panjang ketat warna abu gelap, dan CD warna biru langit cerah secerah paha dan tungkai kakinya yang ingin kujilati terpampang jelas di depan batang hidungku.

Susan melepas kaos dan celana jinsku, Susan sendiri mempersilakan jemariku piknik di pusarnya yang dilanjutkan "tur" melingkari buah dadanya sebanyak lima putaran penuh. Kuraba payudara Susan mulai dari pangkal sampai area putingnya, tapi sayang ia masih terbungkus kaos ketat dan branya, Susan terangsang dan mulai mendesah-desah, kutambah tempo remasanku dan Susan merintih dengan nada kenikmatan yang keluar dari mulutnya.

Lingga menghampiriku, "adik kecil"-ku sudah tak tahan lagi ingin segera keluar bermain. Susan mulai menelanjangi dirinya sendiri, dilepasnya kaos ketat warna merah menyala. Waw, ternyata buah dadanya lebih besar daripada Lingga, sekitar ukuran 33D. Susan dengan rela membuka jins-nya, CD merah jambu transparan yang dikenakannya menaikkan libido-ku.

Tanpa pikir panjang, Lingga langsung melepas kait branya dan 2 buah dada besar, putih, gempal diserahkan di atas pangkuan pahaku, dia pun mulai membuka celana dalamku, dan memasukkan batang kemaluanku yang sudah tegak 90 derajat ke rongga mulutnya dengan bibir yang mungil, ia terbilang ahli melakukannya. Dijulurkan lidahnya menjilati testisku, dilanjutkan ke bagian kepala, tak disangka mulutnya sudah patroli di batang kemaluanku. Kepala Lingga mulai maju-mundur di selangkanganku. Kujambak rambut panjangnya yang pirang dicat dan kubantu ia melakukan "oral seks". Aku baru merasakan hisapan yang hebat kali ini dibanding dengan gadis lainnya yang pernah "ML" denganku.

Kemudian, Susan ikut melepas bra-nya, dan aku kaget sekali punggungku di tempeli oleh payudaranya. Ternyata dia sedang melakukan "pijat Thailand" dengan sempurna. Ia mulai dari bagian pinggang, putingnya yang sudah membusung memberikan sensasi sendiri bagi diriku. Susan mulai "sweeping" dari bawah ke atas lalu ke bawah lagi sambil mengantri gilirannya. Lama kelamaan ia mulai lelah dan memegang pundakku sebagai pegangan, tanganku yang masih "nganggur" membantunya dengan meremas-remas untuk menambah energi gesekan yang ditimbulkannya, aku yakin Susan sudah sering melakukannya dengan laki-laki lain.

Setelah Lingga selesai mengemut batangku, ia melepaskan CD-nya dan lubang kemaluannya yang terawat baik disodorkan ke batang kemaluanku, tak kusangka aku ditarik olehnya dan ia memasukkan sendiri ke lubang kemaluannya. Aku menyanggupi keinginannya yang juga menyanggupi keinginan bejatku selama ini. Sambil dalam posisi duduk dan dipijat ala Thailand oleh Susan aku melayani Lingga sampai ia orgasme dan menjerit-jerit kesakitan, kupelintir puting susu merah mudanya, sambil kupangkas sedikit demi sedikit bulu kemaluannya.

Susan yang melihat Lingga bahagia, langsung iri dan ikut melepas CD-nya, Susan memang agak gemuk, tapi ia lebih montok berisi, sementara Susan dan Lingga memperebutkan kemaluanku, aku mengambil nafas dan mempersiapkan diri untuk "kewajiban"-ku berikutnya. Lingga akhirnya mengalah karena kelelahan, saat "shift"-ku berikutnya bersama Susan aku makin bergairah. Dadanya yang besar pas untuk tanganku yang nakal, Susan dengan bibirnya yang "menantang" menjilati batang kemaluan, dan lubang anus Susan pun tak luput dari serangan peluru karetku. Dengan penuh gairah, ia naik ke atas tubuhku dan mulai bersenggama denganku hingga kedua buah dadanya menggelepar kencang dibuatku, tak lupa kucicipi juga air susu sehat darinya, kugigit gigit sampai agak berwarna kemerahan. Kami bertiga benar-benar menikmatinya.

Susan akhirnya lelah dan lemas olehku, Lingga yang kembali fit ingin melanjutkan aksinya kembali, kutumpahkan saja air maniku ke mulut kemaluannya, setelah itu kusisakan juga untuk Susan tapi tumpah di rambut hitamnya yang terurai di atas kemaluanku.

Susan bangun dan mengambil HP Nokia 3310 miliknya dan Nokia 8810 silver milik Lingga, disetnya dalam posisi vibrate, dan ia mulai mengaktifkannya, HP bergetar dan mereka minta aku memasukkan dalam lubang kemaluannya. Mereka tidur terlentang berdampingan dan aku menindih di antara mereka, kumasukkan HP Nokia 3310 Susan terlebih dahulu, dan Susan menggelinjang karena getaran yang dahsyat, Nokia 8810 memang lebih kecil dan Lingga terlihat kurang puas dengan vibrate HP-nya, karena kasihan kubantu dengan jari tengahku yang kutancapkan ke mulut rahimnya. Akhirnya Lingga tersenyum puas sambil mendesah. Mereka bilang mereka sering "onani" dengan cara begini dan sudah sering terjadi berulang kali bila sedang tak ada "korban" yang mereka mangsa.

Lingga mulai mansturbasi dengan meraba-raba sendiri payudaranya, tak kusangka Lingga mulai meraba puting Susan, Susan mencoba berontak dan menghentikan Lingga, Lingga mengambil tiruan alat kelamin pria yang disimpan di laci kamarnya dan mulai dipakainya untuk bersanggama dengan Susan. Selangkangan Susan direnggangkan dan ia mulai memasang sabuk kemaluannya dan mereka mulai melakukan hubungan lesbian sesama mereka. Melihat kejadian itu, aku sebenarnya simpati terhadap Susan yang hanya menjadi objek saja, Susan terlihat kelelahan meronta-ronta karena ukuran batangan tiruan itu besar sekali.


Karena aku kasihan sama Susan, maka kulumpuhkan Lingga dengan cara kucoblos lubang anusnya yang mengangga dengan batangan asliku yang sudah tegak lagi dan ukurannya pun tak kalah besar dengan yang tiruan. Kontan saja Lingga menghentikan penetrasinya terhadap Susan karena ia sudah kubombardir, Lingga mulai berposisi doggy style, bagiku hal ini masih terasa janggal karena aku sedang "ML" dengan cewek yang sedang memakai batang kemaluan tiruan. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, kami langsung kaget, ternyata tak kusangka Siska, teman sekelasku datang, aku heran.
Siska bertanya pada Lingga, "Ada anak baru nih?"
Lingga jawab, "Iya nih, alim-alim di kelas, disini buas."
Susan berteriak, "Ayu gabung puas deh!"

Siska bergegas melepas kaos ketat merah muda yang transparan, bra warna biru yang dipakainya langsung berloncatan ke arahku, payudara Siska memang kecil, tapi mukanya yang manis mengundang iba dariku untuk memuaskannya. Tinggi Siska memang tak sebanding denganku, badannya juga kecil, pinggangnya kurus. Asumsiku bahwa Siska akan tidak mampu bermain denganku sampai tuntas ternyata salah. Ia bermain dengan garang sekali, penuh pengalaman dan nafsu birahi terpancar dari mata sipitnya yang indah.

Aku mulai mencium bibir indahnya kulanjutkan ke bawah, kugigit kait bra-nya dan ternyata seperti yang kuduga sebelumnya. Selama ini payudara Siska hanya tertolong oleh bra busa yang rutin digunakannya ke kampus. Payudara aslinya sangat kecil, but size doesn't matter to me, dan Siska melepas jins-nya yang kebesaran dan CD-nya pun dengan penuh liukan tubuh mungilnya dilepas di depan mulutku, kontan saja langsung kuhisap bulu kemaluannya, Siska langsung mendesah dan berteriak-teriak.

Susan nyeletuk,
"Eh! Anak kecil, Siska jangan lu siksa gitu donk! gua kan jadi ngiri."
Lingga menambahi,
"Iya, liat-liat donk ukuran lu, berat ampir 80 kg, jangan berani ama yang kecil, ama gua aja lagi yuk!"
Siska yang mendengar sindiran itu langsung unjuk gigi agar teman-temannya tidak underestemate terhadapnya. Siska menindihku dengan posisi 69, adikku betah keluar masuk lubangnya, lubang kemaluan Siska mulai mengeluarkan cairan lendir putih dan nafasnya mulai terenga-engah tak karuan, ia mulai orgasme, kuturunkan tempo permainanku, dan kutarik keluar batang kemaluanku untuk memberikan kesempatannya menge-charge baterainya. Aku nyambi mengelus dada Lingga dan jari tengah kiriku menginap di lubang kemaluan Susan.

Siska minta tambah dan kusanggupi kuremas dadanya, karena kata mitos bila ingin mempunyai buah dada besar harus rajin diremas-remas oleh cowok. Aku mempraktekkan gaya "family style" pada Siska dan aku langsung orgasme dan ingin memuncratkan maniku. Melihat itu, Susan langsung meng-"intercep" aksiku dengan menyodorkan lubang kemaluannya untuk kusemprot dengan spermaku, dia minta disembur di dalam bukan di luar, ternyata dia tak takut hamil nanti. Lingga minta sedikit untuk dituangkan di mulutnya, Lingga bilang itu obat awet muda dan tetap mulus. Siska jelas cemburu melihatnya, ia langsung mengemut batang kemaluanku untuk mengumpulkan spermaku yang masih tersisa, ia membersihkan kemaluanku dengan bersih sampai mengkilat, bibir dan gusinya penuh dengan lendir maniku ia menelan ludah dalam-dalam sambil meremas-remas batang kemaluanku yang sudah mulai terkulai lemas.

Malam mulai larut, tak kusangka kami sudah melakukan kegiatan ini lebih dari 3 jam. Aku bergegas berpakaian, kucari cari dimana celana dalamku, ternyata Lingga sedang asyik menjilati celana dalamku, segera kurebut dari genggamannya, karena ia masih bugil jadi kuberi salam perpisahan berupa cubitan kecil di clitorisnya dan segera bergegas pulang.

Kuambil motor Tornado-ku yang kuparkir di dekat kampus dan ternyata Siska yang sudah berpakaian lengkap menghampiriku dan meminta tumpangan pulang ke rumahnya di daerah Karang Anyar yang masih dekat dengan rumahku, sepanjang perjalanan pulang, ia menekan-nekan payudaranya ke arah punggungku, hal itu jelas mengacaukan konsentrasiku mengendarai motor.

Kuantar Siska ke rumahnya, ia bilang, "Makasih yah! Tadi kamu belain aku di depan dia orang! Emang udah kebiasaan si Susan ama Lingga ngecengin gua padahal lu tadi ama gua puas kan? Kalo mau nambah lagi masuk yuk! kebetulan bonyok gua ke luar kota nih!"
Aku bilang, " Laen kali aja deh, udah kemaleman! nanti kapan-kapan kita lanjutin berdua aja yah! OK!"
Kuberi salam perpisahan dengan mengelus payudaranya yang sudah agak kaku. Dan akhirnya aku pulang ke rumah dengan lemas kuparkir motorku dan berjalan gontai masuk kamarku tanpa ketahuan orang rumah.

Keesokkan harinya di kampus, mereka berdua berterimakasih padaku atas waktu dan kepuasan sejati yang kuberikan. Sampai saat ini, biarlah cerita ini menjadi rahasia kecil bagi kami berempat. Kusimpan beberapa helai bulu kemaluan Lingga sebagai souvernir. Mereka memang betul-betul mampu memuaskan nafsu iblisku yang terpendam selama ini. Dan kalau mereka ingin mengulang momen nikmat tersebut, mereka akan langsung segera menghubungi "adikku" yang selalu meluangkan waktu dan bersedia melayani "keinginan" dan "permohonan" mereka yang sebenarnya kucintai.

Tiga Wanita Satu Lelaki

Tiga Wanita Satu Lelaki
Namaku Jackie dan tentunya bukan nama asliku. Aku adalah pria yang kurang beruntung, karena sudah dua kali ingin berniat untuk berkeluarga dan dua-duanya gagal. Aku berasal dari Indonesia, tapi sudah lama sekali tinggal di negerinya "kanguru". Dan atas saran teman-teman, maka aku mensponsori seorang cewek dari Indonesia dengan niat untuk menikah. Tapi setelah wanita itu mendapatkan izin tinggal tetap di negeri ini, wanita itu meninggalkan aku. Begitu juga dengan yang kedua, yang berasal dari Amerika Latin. Nah, karena rumah yang kumiliki ini mempunyai dua kamar dan karena aku hanya tinggal sendiri sekaligus sudah kapok untuk mencari pasangan lagi, maka kamar yang satunya aku sewakan pada seorang pelajar (cowok) dari Jepang. Namanya Gamhashira. Gamha yang playboy ini sudah dua hari pulang ke negerinya untuk berlibur setelah menamatkan SMA-nya.

Pada suatu sore di hari libur (liburan dari kerja) aku buang waktu dengan main internet, lebih kurang satu setengah jam bermain internet, tiba-tiba terdengar suara bel. Setengah kesal aku hampiri juga pintu rumahku, dan setelah aku mengintip dari lubang kecil di pintu, kulihat tiga orang gadis. Kemudian kubuka pintu dan bertanya (maaf langsung aku terjemahkan saja ke bahasa Indonesia semua percakapan kami),
"Bisa saya bantu?" kataku kepada mereka.
"Maaf, kami sangat mengganggu, kami mencari Gamha dan sudah satu jam lebih kami coba untuk telepon tapi kedengarannya sibuk terus, maka kami langsung saja datang."
Yang berwajah Jepang nyerocos seperti kereta express di negerinya.
"Oh, soalnya saya lagi main internet, maklumlah soalnya hanya satu sambungan saja telepon saya," jawabku.
"Memangnya kalian tidak tahu kalau si Gamha sedang pulang kampung dua hari yang lalu?" lanjutku lagi.


Kali ini yang bule berambut sebahu dengan kesal menjawab, "Kurang ajar si Gamha, katanya bulan depan pulangnya, Jepang sialan tuh!"
"Eh! Kesel sih boleh, tapi jangan bilang Jepang sialan dong. Gua tersinggung nih," yang berwajah Jepang protes.
"Sudahlah, memang belum rejeki kita dijajanin sama si Gamha," sekarang bule bermata biru nyeletus.
Dengan setengah bingung karena tidak mengerti persoalannya, kupersilakan mereka untuk masuk. Mulanya mereka ragu-ragu, akhirnya mereka masuk juga. "Iya deh, sekalian numpang minum," kata bule yang berambut panjang masih kedengaran kesalnya.

Setelah mereka duduk, kami memperkenalkan nama kami masing-masing.
"Nama saya Jacky," kataku.
"Khira," kata yang berwajah Jepang (dan memang orang Jepang).
Yang berambut panjang menyusul, "Emily," (Campuran Italia dengan Inggris).
"Saya Eve," gadis bermata biru ini asal Jerman.
"Jacky, kamu berasal dari mana?" lanjutnya.
"Jakarta, Indonesia," jawabku sambil menuju ke lemari es untuk mengambilkan minuman sesuai permintaan mereka.
Sekembalinya saya ke ruang tamu dimana mereka duduk, ternyata si Khira dan Eve sudah berada di ruang komputer saya, yang memang bersebelahan dengan ruang tamu dan tidak dibatasi apa-apa.
"Aduh, panas sekali nich?!" si Emily ngedumel sambil membuka kemeja luarnya.

Memang di awal bulan Desember lalu, Australia ini sedang panas-panasnya. Aku tertegun sejenak, karena bersamaan dengan aku meletakkan minuman di atas meja, Emily sudah melepaskan kancing terakhirnya. Sehingga dengan jelas dapat kulihat bagian atas bukit putih bersih menyembul, walaupun masih terhalangi kaos bagian bawahnya. Tapi membuatku sedikit menelan ludah. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara si Eve,
"Jacky, boleh kami main internetnya?"
"Silakan," jawabku.
Aku tidak keberatan karena aku membayar untuk yang tidak terbatas penggunaannya.
"Mau nge-chat yah?" tanyaku sambil tersenyum pada si Emily.
"Ah, paling-paling mau lihat gambar gituan," lanjut Emily lagi.
"Eh, kaliankan masih di bawah umur?" kataku mencoba untuk protes.
"Paling umur kalian 17 tahun kan?" sambungku lagi.

Khira menyambut, "Tahun ini kami sudah 18 tahun. Hanya tinggal beberapa bulan saja." Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi. Baru saja aku ngobrol dengan si Emily, si Eve datang lagi menanyakan, apa saya tahu site-nya gambar "gituan" yang gratis. Lalu sambil tersenyum saya hampiri komputer, kemudian saya ketikkan salah satu situs seks anak belasan tahun gratis kesukaanku. Karena waktu mengetik sambil berdiri dan si Khira duduk di kursi meja komputer, maka dapat kulihat dengan jelas ke bawah bukitnya si Khira yang lebih putih dari punyanya si Emily. Barangku terasa berdenyut. Setengah kencang. Setelah gambar keluar, yang terpampang adalah seorang negro sedang mencoba memasuki barang besarnya ke lubang kecil milik gadis belasan. Sedangkan mulut gadis itu sudah penuh dengan barang laki-laki putih yang tak kalah besar barangnya dengan barang si negro itu. Terasa barangku kini benar-benar kencang karena nafsu dengan keadaan. Si Emily menghampiri kami berada, karena si Eve dan Khira tertawa terbahak-bahak melihat gambar itu. Aku mencoba menghindar dari situ, tapi tanpa sengaja sikut Khira tersentuh barangku yang hanya tertutup celana sport tipis. Baru tiga langkah aku menghindar dari situ, kudengar suara tawa mereka bertambah kencang, langsung aku menoleh dan bertanya, "Ada apa?" Eve menjawab, "Khira bilang, sikutnya terbentur barangmu," katanya.

Aku benar-benar malu dibuatnya. Tapi dengan tersenyum aku menjawab, "Memangnya kenapa, kan wajar kalau saya merasa terangsang dengan gambar itu. Itu berarti aku normal." Kulihat lagi mereka berbisik, kemudian mereka menghampiriku yang sedang mencoba untuk membetulkan letak barangku. Si Eve bertanya padaku sambil tersipu,
"Jacky, boleh nggak kalau kami lihat barangmu?"
Aku tersentak dengan pertanyaan itu.
"Kalian ini gila yah, nanti aku bisa masuk penjara karena dikira memperkosa anak di bawah umur."
(Di negeri ini di bawah 18 tahun masih dianggap bawah umur).
"Kan tidak ada yang tahu, lagi pula kami tidak akan menceritakan pada siapa-siapa, sungguh kami janji," si Emily mewakili mereka.
"Please Jacky!" sambungnya.
"Oke, tapi jangan diketawain yah!" ancamku sambil tersenyum nafsu.

Dengan cepat kuturunkan celana sport-ku dan dengan galak barangku mencuat dari bawah ke atas dengan sangat menantang. Lalu segera terdengar suara terpekik pendek hampir berbarengan.
"Gila gede banget!" kata mereka hampir berbarengan lagi.
"Nah! Sekarang apa lagi?" tanyaku.
Tanpa menjawab Khira dan Emily menghampiriku, sedangkan Eve masih berdiri tertegun memandang barangku sambil tangan kanannya menutup mulutnya sedangkan tangan kirinya mendekap selangkangannya. "Boleh kupegang Jack?" tanya Khira sambil jari telunjuknya menyentuh kepala barangku tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya bisa menjawab, "Uuuh..." karena geli dan nikmat oleh sentuhannya. Sedang Eve masih saja mematung, hanya jari-jari tangan kirinya saja yang mulai meraih-raih sesuatu di selangkangannya. Lain dengan Emily yang sedang mencoba menggenggam barangku, dan aku merasa sedikit sakit karena Emily memaksakan jari tengahnya untuk bertemu dengan ibu jarinya. Tiba-tiba Emily, hentikan kegiatannya dan bertanya padaku, "Kamu punya film biru Jack?" Sambil terbata-bata kusuruh Eve untuk membuka laci di bawah TV-ku dan minta Eve lagi untuk masukan saja langsung ke video.

Waktu mulai diputar gambarnya bukan lagi dari awal, tapi sudah di pertengahan. Yang tampak adalah seorang laki-laki 60 tahun sedang dihisap barangnya oleh gadis belasan tahun. Kontan saja si Eve menghisap jarinya yang tadinya dipakai untuk menutup mulut sedangkan jari tangan kirinya masih kembali ke tugasnya. Pandanganku sayup, dan terasa benda lembut menyapu kepala barangku dan benda lembut lainnya menyapu bijiku. Aku mencoba untuk melihat ke bawah, ternyata lidah Khira di bagian kepala dan lidah Emily di bagian bijiku.
"Uuh... ssshh... uuuhh... ssshhh..." aku merasa nikmat.
Kupanggil Eve ke sampingku dan kubuka dengan tergesa-gesa kaos dan BH-nya. Tanpa sabar kuhisap putingnya dan segera terdengar nafas Eve memburu.
"Jacky... ooohh... Jacky... terusss... ooohhh..." nikmat Eve terdengar.
Kemudian terasa setengah barangku memasuki lubang hangat, ternyata mulut Khira sudah melakukan tugasnya walaupun tidak masuk semua tapi dipaksakan olehnya.
"Slep... slep... chk... chk..."
Itulah yang terdengar paduan suara antara barangku dan mulut Khira. Emily masih saja menjilat-jilat bijiku.

Dengan kasar Eve menarik kepalaku untuk kembali ke putingnya. Kurasakan nikmat tak ketulungan. Kuraih bahu Emily untuk bangun dan menyuruhnya untuk berbaring di tempat duduk panjang. Setelah kubuka semua penghalang kemaluannya langsung kubuka lebar kakinya dan wajahku tertanam di selangkangannya.
"Aaahhh... Jacky... aaahhh... enak Jacky... teruskan... aaahhh... terussss Jacky!" jerit Emily.
Ternyata Eve sudah bugil, tangannya dengan gemetar menarik tanganku ke arah barangnya. Aku tahu maksudnya, maka langsung saja kumainkan jari tengahku untuk mengorek-ngorek biji kecil di atas lubang nikmatnya. Terasa basah barang Eve, terasa menggigil barang Eve.
"Aaaahhh..." Eve sampai puncaknya.

Aku pun mulai merasa menggigil dan barangku terasa semakin kencang di mulut Khira, sedangkan mulutku belepotan di depan barang Emily, karena Emily tanpa berteriak sudah menumpahkan cairan nikmatnya. Aku tak tahan lagi, aku tak tahan lagi, "Aahhh..." Sambil meninggalkan barang Emily, kutarik kepala Khira dan menekannya ke arah barangku. Terdengar, "Heeerrkk..." Rupanya Khira ketelak oleh barangku dan mencoba untuk melepaskan barangku dari mulutnya, tapi terlambat cairan kentalku tersemprot ke tenggorokannya. Kepalanya menggeleng-geleng dan tangannya mencubit tanganku yang sedang menekan kepalanya ke arah barangku. Akhirnya gelengannya melemah Khira malah memaju mundurkan kepalanya terhadap barangku. Aku merasa nikmat dan ngilu sekali, "Sudah... sudah... aku ngiluuu... sudah..." pintaku. Tapi Khira masih saja melakukannya. Kakiku gemetar, gemetar sekali. Akhirnya kuangkat kepala Khira, kutatap wajahnya yang berlumuran dengan cairanku. Khira menatapku sendu, sendu sekali dan kudengar suara lembut dari bibirnya, "I Love you, Jacky!" aku tak menjawab. Apa yang harus kujawab! Hanya kukecup lembut keningnya dan berkata, "Thank you Khira!"

Rasa nikmatku hilang seketika, aku tak bernafsu lagi walaupun kulihat Eve sedang memainkan klitorisnya dengan jarinya dan Emily yang ternganga memandang ke arahku dan Khira. Mungkin Emily mendengar apa yang telah diucapkan oleh Khira. Demikianlah, kejadian demi kejadian terus berlangsung antara kami. Kadang hanya aku dengan salah satu dari mereka, kadang mereka berdua saja denganku. Aku masih memikirkan apa yang telah diucapkan oleh Khira. Umurku lebih 10 tahun darinya. Dan sekarang Khira lebih sering meneleponku di rumah maupun di tempat kerjaku. Hanya untuk mendengar jawabanku atas cintanya. Dan belakangan aku dengar Eve dan Emily sudah jarang bergaul dengan Khira.

Threesome Sex

Threesome Sex
Namaku Dody. Aku adalah seorang karyawan salah satu perusahaan IT di Bandung. Saat ini usiaku 28 tahun dan masih single. Seperti halnya orang lain, di usiaku ini kehidupan seksku semakin menggebu. Tetapi ada satu perbedaannya, yaitu aku ini termasuk biseks. Aku anggap ini adalah suatu kelebihan, karena disamping aku suka cewek juga aku suka laki-laki. Dan fantasi seksku yang paling aku sukai adalah bermain seks bersama seorang laki-laki dan seorang perempuan (threesomes). Aku impikan kesempatan ini tiap hari, sampai pada suatu ketika, tepatnya awal tahun 2001, sekitar bulan Februari, kesempatan ini akhirnya terlaksana juga.

Jauh hari sebelum kejadian itu aku dekat dengan teman sekantor, namanya Andri (bukan nama sebenarnya). Sebelumnya aku tidak begitu dekat dengan dia karena divisi kami yang berbeda. Tapi karena kami dilibatkan dalam satu proyek, maka akhirnya kami menjadi dekat. Terus terang aku kagum sekali dengannya. Wajahnya sih biasa saja, tetapi badannya sangat atletis, tingginya sekitar 178 cm lebih pendek 4 cm dari tinggiku (tinggiku sekitar 182 cm). Usianya sekitar 32 tahun dan dia sudah berkeluarga dan mempunyai 1 anak. Kadang-kadang di sela kesibukan kami, dia selalu mencuri pandang ke arahku, dan kadang-kadang selalu menatapku. Aku sendiri jadi bingung apa gerangan yang ada di hatinya, dan aku balas lagi tatapannya sehingga akhirnya kami saling berpandangan selama beberapa detik dan kuakhiri dengan memberikan senyuman.

Semenjak saat itu kami jadi dekat sekali, dan kadang-kadang kami pergi ke toilet di kantor bersamaan. Ketika kami buang air kecil, kami selalu saling melihat penis masing-masing (kontes), dan kadang kami saling tertawa melihat kelakuan kami ini seperti anak SMP saja. Akhirnya aku tahu bahwa dia sudah ditinggalkan istrinya sekitar 2 bulanan.

Aku tidak tahu alasannya kenapa, karena aku tidak mau terlibat dengan urusan rumah tangganya. Sehingga jika aku kerja lembur dan pulangnya malam aku selalu ditawari menginap di rumahnya. Aku setujui saja karena dari pada aku pulang jauh-jauh ke rumahku yang berada di luar kota Bandung, lebih baik aku menginap di rumahnya sambil dapat mengenal lebih dekat lagi dengan Mas Andri (itulah panggilan aku ke dia).

Karena di rumahnya tidak ada siapa-siapa, kami selalu berpelukan sambil menonton televisi layaknya seorang adik dengan kakak. Walau bagaimanapun aku masih menaruh hormat bahwa dia adalah teman kerjaku, walaupun kadang-kadang penisku ini bangun dari tidurnya. Dan sampai saat itu aku tidak tahu bagaimana dia, apa dia mempunyai fantasi seperti aku?

Pada suatu waktu kami ditugaskan ke luar kota untuk melakukan presentasi. Dan hanya aku dan Mas Andri saja yang ditugaskan. Kebetulan di kota S itu aku mempunyai teman cewek namanya Rita. Kami sudah berkenalan selama setengah tahun melalui chating, dan kami selalu saling komunikasi dan saling tukar foto. Dari fotonya aku melihat dia begitu cantik dan seksi. Dan setelah pekerjaan kantorku dengan Mas Andri selesai, aku telepon dia untuk datang ke hotelku (aku dan Mas Andri menyewa 1 kamar). Akhirnya Rita mau datang tapi agak malaman.

Ketika malam tiba, akhirnya bel pintu hotel berbunyi. Lau aku buka, ternyata wow, seorang gadis cantik sedang berdiri. Ternyata Rita ini tinggi, sekitar 168 cm, kulitnya putih mulus, kakinya jenjang, rambutnya panjang terurai dan amboi.. dadanya itu yang membuat mata tidak mau mengalihkan ke arah lain. Di usianya yang ke 26 ini dia kelihatan begitu seksi dengan rok pendeknya seperti seorang super model yang sedang berpose. Aku terkesima sampai beberapa detik.

"Apa betul ini kamarnya Pak Dody..?" tanyanya."Betul.. kamu pasti Rita yah..?" jawabku."Dan kamu pasti Dody yah..?" jawabnya.Kami akhirnya saling berjabat tangan, dan aku persilakan dia untuk masuk. Tidak lupa kukenalkan pada Mas Andri."Maaf yah kamarnya berantakan..," kataku."Ah ndak apa-apa kok aku ngerti kok kalian kan laki-laki," katanya sambil senyum.Aduh mak.., senyumnya begitu seksi sekali, kelihatan bahwa dia itu orang yang ramah.Singkat cerita kami bertiga ngobrol sampai malam, dan akhirnya kami pesan makan malam lewat room servicenya hotel. Dan tidak kerasa waktu sudah menunjukkan jam 10 malam. Dari obrolan sebelumnya aku jadi tahu bahwa Rita tinggal kost di kota S ini. Dia kerja sebagai sekretaris di perusahaan onderdil mobil terkemuka. Orangtuanya tinggal di luar kota. Jadi dia bebas-bebas saja kalau pulangnya malam. Obrolan kami sudah tidak karuan lagi, dan mengarah pada hal seks.

"Mas, pantas yah kalau aku jadi pacarnya Rita..?" tanyaku ke Mas Andri sambil bercanda.
Aku mendekati Rita dan duduk di sampingnya sambil memeluknya serasa dia pacarku.
"Wah pantas sekali.. tapi lebih pantasnya lagi kalau sama Mas saja.." kata Mas Andri sambil tersenyum.
"Yah sudah.. kalau kalian mau.. dua-duanya aja. Aku senang kok pada kalian berdua," katanya sambil senyum.
"Yang bener nih..?" tanyaku sambil jantungku ini mulai berdebar-debar.
"Rita serius kok.. malahan dua rius." katanya.
Mendengar perkataan Rita seperti itu, otomatis jiwa kelelakian kami terpanggil serasa ada lampu hijau yang mempersilakan untuk jalan terus.

Sekilas kulihat Mas Andri juga mengalami hal yang sama denganku. Nafsu seks aku pada saat itu begitu menggebu-gebu. Tanpa malu-malu aku eratkan pelukanku ke tubuh bagian atas Rita sampai buah dadanya terasa sekali di dadaku. Aku ciumi lehernya, dan perlahan-lahan kuciumi sampai ke bawah dan sampai ke buah dadanya. Melihat adegan itu, Mas Andri juga tidak mau kalah, dia menciumi sedikit demi sedikit kaki mulusnya Rita, mulai dari betis sampai ke paha. Karena posisi kami yang tidak mengenakan ini, kami boyong tubuh Rita ke atas kasur dan kedengaran nafas Rita yang mulai tidak teratur.

Aku mulai mencium bibir Rita yang mungil itu. Kukulum bibirnya dan sesekali kuhisap dengan desahan-desahan yang membuat dia semakin terangsang. Tanpa kusadari, ternyata Mas Andri sudah berada di bibir kami. Akhirnya kami bertiga saling berciuman, dan terasa sekali nikmatnya hisapan-hisapan bibir kami yang membuat kami bertiga semakin terangsang. Aku mulai membuka t-shirt 'polo'-ku, dan begitu juga Mas Andri dengan kemejanya. Mas Andri mulai membuka bajunya Rita, dan tampaklah BH-nya Rita yang bewarna coklat muda dengan renda-renda di pinggirnya. Sehingga tampaklah dua buah gunung yang menjulang ke atas. Dan dengan tanpa basa-basi lagi Mas Andri langsung melepaskan BH-nya Rita, dan tampak buah dada Rita yang putih mulus, dan tampak putingnya yang sudah keras dan memerah.

Melihat pemandangan yang begitu menggoda, Mas Andri langsung menghisap buah dada yang sebelah kiri. Tanpa menunggu perintah dari Mas Andri, aku langsung ikutan menghisap buah dada Rita yang sebelah kanan. Kuhisap dan hisap terus, kadang-kadang kujilat putingnya yang keras itu, dan terdengar rintihan dan desahan-desahan nikmat Rita. Karena penis aku yang dari tadi sudah kepingen ikutan menikmati pemandangan yang indah itu sehingga dia tidak nyaman di tempatnya, maka kulepaskan celanaku dan CD-ku. Tampaklah penisku yang menyembul keluar. Ukuran penisku sekitar 18 cm, dengan batang yang agak besar dengan ukuran helm yang lebih besar dari batangku.

Mas Andri juga ikut-ikutan melepaskan celana dan CD-nya juga. Tampaklah penisnya yang tidak terlalu besar, sekitar 14 cm tetapi mempunyai batang yang besar. Aku baru sekali ini melihat penisnya Mas Andri yang sudah berdiri tegak. Sebelumnya aku belum pernah melihat penis Mas Andri yang tegak sekali seperti sekarang ini, mungkin karena terangsang sekali menikmati pemandangan yang indah ini, sehingga aku pun ikut semakin terangsang. Kulepaskan juga rok dan CD hitamnya Rita, sehingga kami bertiga berbugil ria tanpa sehelai benang pun di tubuh kami.

Aku mulai menciumi dan menghisap puting buah dadanya Rita lagi. Dan Mas Andri mulai menghisap lubang vaginanya Rita. Nafas Rita mulai tidak teratur dan tampak Rita mengelinjang-gelinjang. Aku semakin terangsang melihatnya. Apalagi melihat Mas Andri yang semakin semangat menghisap, dan lidahnya yang panjang mejilati lubang kenikmatannya Rita. Beberapa menit kemudian Rita mulai orgasme, dan tampak badan Rita menegang diiringi dengan suara jeritan, "Auuch..," tanda keenakan.

Mendengar jeritan suara Rita itu, penisku tambah tegak dan rasanya ingin kumasukkan cepat-cepat ke lubang vagina Rita, tapi aku lihat Mas Andri mulai memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginanya Rita, dan tangan Mas Andri memegangi penisnya agar dapat masuk ke dalam vagina Rita. Setelah kelihatan masuk, Mas Andri mulai menggenjot dan memasuk-keluarkan penisnya. Tiba-tba tangan Rita sudah memegang penisku dan menuntunku ke dalam mulutnya. Akhirnya penisku sudah ada di depan mulutnya Rita. Rita mulai memainkan lidahnya menjilati penisku dan sesekali dimasukkannya penisku sambil dihisapnya.

Tiap hisapannya rasanya bagaikan terbang di awan, apalagi melihat genjotan Mas Andri yang semakin cepat di vaginanya Rita. Tampak dia begitu seksi dan gagah, dan aku sengaja mendekatkan wajahku pada wajah Mas Andri. Aku ingin sekali meciumi bibirnya yang seksi, tapi aku takut Mas Andri tidkak suka. Tapi tanpa diduga, Mas Andri mulai mencium bibirku, dan kubalas. Kami saling berciuman dengan penuh nafsu, sementara Mas Andri tetap menggejot Rita dan penisku masih tetap dihisap oleh Rita.

Akhirnya kami ganti posisi ke posisi doggy sytle, dimana Rita menungging dan gantian aku yang memasukan penisku ke dalam vaginanya Rita. Untuk pertamanya aku sulit sekali memasukkan penisku ke dalam vaginanya, mungkin karena ukuran penisku yang agak besar dibanding punyanya Mas Andri. Tapi sedikit demi sedikit aku masukkan, dan akhirnya, "Bless.." penisku dapat masuk. Uhh.., enak sekali rasanya, ternyata lubang vagina Rita masih sempit, dan aku merasakan penisku bagai diremas-remas. Aku masuk dan keluarkan penisku, dan kulakukan semakin cepat. Sekarang giliran penis Mas Andri yang dihisap oleh Rita. Rasanya enak sekali menggenjot Rita dan melihat Mas Andri yang keenakan dihisap oleh Rita. Mungkin inilah yang dinamakan surga dunia, dan aku bagaikan terbang di awan.

"Uh.. ah.. uh.. ah..," suara rintihan Rita.
"Terus.. Mas.. oh.. enak Mas.. terus..!" teriaknya.
Kugenjot terus dan semakin cepat kugenjot, dan akhirnya Rita berteriak, "Mass.., aku mau keluarr.."
Tubuh Rita menegang dan terasa vagina Rita berdenyut-denyut, terasa ada yang membasahi penisku. Akhirnya Rita orgasme yang kedua. Kukeluarkan penisku yang masih tegak berdiri, dan tampak ada sebagian cairannya Rita. Mas Andri langsung menjilati penisku dan menjilati semua cairan yang ada sampai habis. Dan tanpa kuduga, Mas Andri terus saja menjilati penisku dan mulai memasukkannya ke dalam mulutnya. Oh.., enak sekali hisapannya, berbeda dengan hisapan Rita tadi. Kali ini lebih kasar dan lebih dalam sedotannya, bagaikan vacuum cleaner yang sedang menyedot debu.

Setelah bangkit dari istirahatnya, Rita kemudian menghampiri kami dan mulai memegangi penisnya Mas Andri dan memaksa kami untuk berdiri di lantai. Akhirnya aku dan Mas Andri berdiri berhadapan, dan Rita memegangi penis kami sambil jongkok. Penis kami bergantian dihisapnya. Dan kadang-kadang keduanya dimasukkan ke dalam mulutnya sambil tangannya mengocok penis kami berdua. Sambil keenakan kuhisap putingnya Mas Andri dan kujilati. Tampak lenguhan Mas Andri yang merasakan keenakan.

"Uh.. terus Dod, teruus enaak..!" katanya setiap kujilat putingnya.
Mendengar desahan Mas Andri dan melihat Rita yang sedang asyik menikmati penis kami, aku semakin terangsang, dan akhirnya ada sesuatu yang ingin keluar dari penis kami.
"Mas, aku ingin keluuaar.." kataku.
"Aku juga.." kata Mas Andri.
Akhirnya kami memegang penis kami masing-masing dan mengocoknya. Wajah Rita sudah berada di depan penis kami.

Kupercepat kocokkanku, dan, "Ahh.. crot.. crot.. crot.." air maniku keluar persis di bibir merahnya Rita.
Begitu juga dengan Mas Andri. Tampak badannya menegang dan matanya terpejam menikmati sesuatu yang enak, yang mungkin selama ini belum dialaminya.
Dan seiring dengan lenguhan panjangnya Mas Andri, "Ahh.., crot.. crot.." air maninya keluar mengenai wajah Rita yang kelihatan menikmatinya juga.
Rita mengusapkan semua cairan mani tersebut ke seluruh wajah dan badannya. Kuciumi bibir Rita yang masih terasa air mani yang aku dan Mas Andri keluarkan tadi. Akhirnya kami bertiga saling berciuman, dan kami pun naik ke atas kasur. Kami saling berpelukan, dan tanpa terasa akhirnya kami tertidur.

Besoknya, sekitar jam 10 pagi kami bangun dan mandi bertiga. Kami mengulangi permainan seks seperti semalam lagi, tetapi sekarang lebih cepat kami lakukan, karena Rita harus segera pulang dan bersiap-siap untuk kerja. Dengan perasaan puas seperti semalam, akhirnya kami akhiri permainan tersebut, dan kami pun segera untuk bersiap-siap pulang ke Bandung. Saat perpisahan, Rita menciumi kami berdua, dan dia minta agar kami selalu mengontak dia jika kami ingin bermain three somes lagi.

Aku, Istriku dan Mantan Pacarku

Aku, Istriku dan Mantan Pacarku
Cerita ini aku alami waktu berlibur di kota S bersama istriku. Saat itu aku ketemu mantanku waktu kerja di kota itu. Namanya Maya, sebut saja demikian. Aku dan istriku waktu itu menginap di hotel 'S', kami berdua sudah hampir 3 hari menginap untuk sedikit refresing dari kota J. Selama ini aku mendengar Maya hidup sendiri, dia sudah putus sama yang katanya calon suami waktu dulu dikenalkan denganku, dan dia katanya sekarang adalah biseks (moga-moga bukan begitu yang aku dengar).

Hari keempat setelah usai makan malam, aku dan istriku mulai iseng seperti biasa suami istri saling cium, saling hisap walaupun dengan pakaian setengah telanjang, namun gairah kami berdua tidak ada habis-habisnya (maklum tiap hari pikiran ini dipenuhi pekerjaan kantor, jadi wajar kalau tiap hari waktu liburan kami senantiasa berhubungan). Kata teman-temanku aku punya libido seks yang tinggi, makanya istriku kadang-kadang tidak kuat meladeni diriku di ranjang. Tengah asyik-asyiknya kami penetrasi pintu kamar hotelku diketuk, aku langsung beranjak tanpa mempedulikan istriku yang sudah ngos-ngosan tidak karuan. Betapa terkejutnya aku waktu kubuka pintu, sesosok badan yag anggun berdiri di depanku dengan celana jeans ketat dan kaos putih ketat terawang. Aku hampir terpesona "Maya.." kataku setengah gugup. "Ayo masuk," pintaku, tanpa sadar aku sudah setengah telanjang (walau hanya memakai celana pendek waktu itu).

Dia mengikutiku masuk ruangan hotel, istriku pun tengah rebahan dan hanya ditutup oleh selimut hotel.
"Ini Maya, Mah kenalin," mereka pun saling berjabat tangan.
"Oh, kalian sedang asyik yah, maaf kalo aku mengganggu?" kata Maya kemudian.
Kami pun agak kikuk, namun Maya dengan santai pun berkata,
"Lanjutin aja, cueklah kalian kan sudah suami istri, ayo lanjutin aja!"
Aku dan istriku heran melihat hal itu, namun dengan sedikit kikuk tanpa aku pikirkan siapa dia, aku mulai lagi penetrasi dengan istriku (walaupun agak canggung). Kulumat bibir istriku, turun ke bawah di antara dua payudara nan indah yang kumiliki selama ini (ukurannya sih 34B) kujilat-kugigit puting susu istriku, dengan terpejam istriku mendesah, "Aaahh.. aahh.." dia pun tidak memperdulikan sekelilingnya juga termasuk Maya. Mulutku mulai turun ke arah di lubang kemaluan istriku dengan tangan kanan dan kiri meremas-remas kedua payudaranya. Kujilati lubang kemaluan istriku, dia pun mulai bergoyang-goyang. "Mas.. itilnya.. aahh enak.. Mas.. terus.." Aku sempat melirik Maya, dia pun melihat adegan kami berdua seakan-akan ingin ikut menikmatinya.

"Mas, ayo mulai.. aku.. udah nggak.. kuat.. nih.." lalu penisku yang sudah mulai tegak berdiri mulai masuk ke lubang vagina istriku, "Bleess.. sleepp.." begitu berulang-ulang, tiba-tiba tanpa aku sadari Maya sudah melepas semua penutup tubuhnya, dia beranjak dari tempat duduk dan mendekati istriku, dilumatnya bibir mungil istriku. Edan! pikirku, namun ini memang pengalaman baru bagi kami berdua dan lebih ada variasinya. Istriku pun ternyata membalas ciuman Maya dengan bergairah, tangan Maya pun asyik memainkan puting susu istriku. Hampir satu jam aku naik-turun di tubuh istriku, dan tubuh istriku mulai mengejang "Mas.. aku.. ke.. lu.. aagghh.." Tubuh istriku tergeletak lemas di ranjang, Maya tahu kalau aku belum sampai puncak, ditariknya diriku agar duduk di tepi ranjang, dengan penis yang masih tegak dan basah oleh sperma istriku. Maya mulai menjilati penisku dengan bergairah, "Enak Mas cairan istrimu ini," katanya. Istriku yang melihat hal itu hanya senyum-senyum penuh arti, Maya masih dengan bergairah mengulum-ulum penisku yang panjang dan besar itu, "May, aku pengen.." Dia tahu apa yang kuminta, tanpa bertanya pada istriku Maya naik di antara kedua kaki, rupanya lubang kemaluannya sudah basah melihat adeganku dan istriku tadi.

Lalu "Bleess.." penisku sudah masuk ke vagina Maya. Istriku melihat itu hanya terdiam, namun kemudian dia bangkit dan mendorongku sehingga aku di posisi terlentang di ranjang. Ia mulai naik ke tubuhku dengan posisi lubang vaginanya tepat di atas kepalaku. "Jilati Mas.." pintanya manja. Aku mulai menjilati lubang kemaluan istriku dan klitorisnya yang indah itu, istriku dengan posisi itu ternyata lebih bisa menikmati dengan Maya, mereka saling berciuman dan posisi Maya pun naik-turun di atas penisku. Istriku dengan bergairah melumat kedua puting payudara indah milik Maya, setelah setengah jam tubuh Maya mengejang, "Mas.. aku.. mau.. ke.. aahh.." cairan panas menerpa penisku, begitu pula aku sudah ingin mencapai puncak dan tak tahan lagi spermaku tumpah di dalam lubang vagina Maya. Maya kemudian beringsut dari tempat tidur, dia berjalan ke arah tas yang ia bawa tadi, lalu mengeluarkan sebuah benda coklat panjang dengan tali melingkar, itukah yang dinakan "dildo", aku dan istriku baru tahu waktu itu.

Maya mulai mengenakan dildonya, persis seperti laki-laki, dia berjalan ke arah istriku yang sejak tadi rebahan di sampingku. Maya mulai beraksi, dia menciumi istriku dengan bergairah, melumat puting susu istriku yang tegak, turun ke vaginanya, dijilatinya dengan puas, klitorisnya dimainkan dengan ujung lidahnya, istriku tak tahan dia mendesah-desah kenikmatan. "May.. terus.." Maya kemudian melepas vagina istriku yang tadi dijilat dan digigitnya, dia naik di atas tubuh istriku, lalu tangannya membimbing dildo yang dia pakai tepat di atas lubang vagina istriku, dengan sekali tekan masuklah dildo itu, "Aauugghh.." teriak istriku. "Enak Mas.. lebih enak dari punyamu.." katanya, aku hanya tersenyum. Maya seakan bergairah sekali dalam permainan itu, seakan-akan dia seorang laki-laki yang sedang menyetubuhi wanita, istriku pun menikmatinya. Aku sudah tidak tahan melihat adegan itu, tanpa minta ijin dulu dengan posisi membelakangi Maya aku melihat warna merah indah vagina milik Maya terpampang di depanku. Dengan sekali genjot penisku sudah masuk ke lubang itu, "Bleess.." Mata Maya sampai terpejam-pejam menikmati itu.

Setelah beberapa lama tubuh istriku tampak mengejang dan, "Ahh.. May.. sayang.." Dia lemas untuk kedua kalinya. Maya tiba-tiba menahanku, sehingga aku terdiam, dia bangkit berdiri dari posisi di atas istriku, dia mendorongku ke tempat tidur, dia melepas dildonya dan naik ke tubuhku, dia mulai lagi dengan posisi seperti awal tadi, wow nikmat sekali. Istriku bangkit dari ranjang, dia iseng mengenakan dildo yang dikenakan Maya tadi, lalu berjalan membelakangi Maya, istriku melihat dengan indah pantat Maya yang putih mulus dan halus itu. Dibelainya dengan lembut, dia mendorong tubuh Maya sehingga terjerambab, dengan posisi itu kami dapat saling berciuman dengan bergairah. Istriku lalu mengambil posisi, dengan perlahan-lahan dia memasukkan dildonya di dubur Maya (dia ingin anal seks rupanya dengan Maya), dengan gerakan lembut dildo itu masuk ke dubur Maya, Maya pun berteriak, "Aagghh sa.. kit.." istriku pun berhenti sebentar, lalu dengan gerakan maju-mundur secara pelan dildo itu akhirnya lancar masuk ke dubur Maya. Mata Maya pun sampai terpejam-pejam, "Mas.. aku.. udah.. nggakk.. ku.. at.. la.." kembali cairan panas menyerang penisku.

Istriku sudah berhenti memainkan dildonya takut Maya menderita sakit. Tubuh Maya terbaring di ranjang sebelahku, istriku yang nafsunya masih menggebu langsung menyerangku, dia dengan posisi seperti Maya tadi mulai naik-turun dan tanganku pun tak ketinggalan memilin kedua puting susunya. Setelah hampir satu jam kami bergumul, akhirnya klimaks kami berdua sama-sama mengeluarkan cairan di dalam satu lubang. Istriku kemudian beringsut, dia ingin mengulum penisku yang masih tegak berdiri dan basah oleh cairan kami berdua, Maya pun tak ketinggalan ikut mengulum-ngulum penisku. Betapa nikmatnya malam ini, pikirku.

Akhirnya kami bertiga tertidur karena kecapaian dengan senyum penuh arti semoga permainan ini dapat kami teruskan dengan didasari rasa sayang bukan karena nafsu semata di antara kami bertiga. Semoga!